Jepang menemukan bahwa tren kejahatan di jagat maya
(cyber crime) semakin canggih dan perlu penanganan serius oleh dunia internasional.
Menurut
Prof Yoichi Shinoda, Penasihat Senior di Pusat Informasi Keamanan
Nasional Jepang, perlu dibuat kebijakan baru di masing-masing negara
untuk meningkatkan keamanan terhadap serangan siber.
"Ada tiga
langkah utama untuk menangani serangan siber yang bahayanya jelas-jelas
sudah ada," kata kata Shinoda, di acara Seminar Cyber Security untuk
Pembuatan Kebijakan oleh Misi Diplomatik Jepang untuk ASEAN, Jakarta, 6
September 2013.
Tiga langkah itu, tambah Shinoda, adalah melihat
tren ancaman siber, menentukan kebijakan keamanan siber dan tindakannya,
serta harus ada kolaborasi dengan dunia internasional dalam
penanganannya.
"Serangan siber benar-benar nyata. Model serangannya terus berkembang dengan cepat, sehingga makin banyak tindakan
cyber crime di sistem komputer dan perangkat-perangkat yang kita gunakan sehari-hari," jelas Shinoda, yang juga sebagai Profesor di
Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST).
Serangan
siber pun terus berubah, dari awalnya hanya untuk kesenangan pribadi,
seperti aktualisasi seorang peretas hingga sekarang sudah digunakan
untuk mendapatkan keuntungan ekonomis, alat politik, dan pesan-pesan
lainnya.
"Dulu, serangan siber tidak mengincar e-mail, hanya
menyerang situs-situs. Tapi, saat ini serangan siber mulai merambah
e-mail dan USB memori seseorang, tujuannya untuk mencuri data-data
penting," ujar Shinoda.
Jepang pun merasa perlu dukungan dari
negara-negara lain untuk memerangi serangan siber. Saat ini, Jepang
mengajak negara-negara di ASEAN untuk duduk bersama dan mencari solusi
dalam menentukan arah kebijakan suatu negara terkait kejahatan modern
ini.
Sumber : viva.co.id ~ editor : admin