Nama Xiaomi tampaknya terdengar belum familiar. Tapi, jangan menyepelekannya dulu. Nama itu baru-baru ini jadi buah bibir.
Ya,
Xiaomi adalah produsen ponsel pintar asal China, yang disebut-sebut
sebagai "Apple" dari Timur. Vendor satu ini digadang-gadang akan menjadi
rival kuat bagi Apple dan Samsung di masa depan.
Xiaomi sukses "membajak" eksekutif Google Android. Dia adalah Hugo
Barra, Vice President of Product Management Google Android.
Sosok eksekutif itu
berani hengkang meninggalkan rakasa Internet ke perusahaan yang baru
berumur 3,5 tahun dengan pendapatan tahunan US$2 miliar, setara Rp21,7
triliun. Jauh dibandingkan Apple dengan pendapatan Rp1.700 triliun di
tahun 2012.
Padahal, selama ini,
Barra dikenal sebagai ujung tombak dari pengembangan sistem operasi
mobile dan pengawas update desain antarmuka Android dari waktu ke waktu.
Barra kabarnya pindah ke
Xiaomi dengan jabatan Wakil Presiden Xiaomi global. Pertanyaan besar
muncul, bagaimana bisa jebolan Massachusetts Institute of Technology itu
keluar dari perusahaan teknologi raksasa, dan memilih perusahaan yang
hanya memasarkan produk di pasar China, Hong Kong, dan Taiwan, sebagai
pelabuhan barunya.
"Saya sedang melihat
tantangan baru. Saya sangat senang mendapat kesempatan bekerja di Xiaomi
dan akan membantu perusahaan untuk mendorong ekosistem sistem operasi
Android," kata Barra.
Google pun mengkonfirmasi kepindahan salah satu staf terbaiknya. Namun, Google tidak merasa khawatir akan tersaingi oleh Xiaomi.
"Kami
semua akan merindukannya (Barra). Tapi kami juga sangat gembira, dia
masih berada di dalam ekosistem Android," kata juru bicara Google.
Sekadar Anda tahu, Xiaomi
berhasil menjual tujuh juta unit ponsel pada 2012, dan yakin bisa
menggandakan penjualannya hingga dua kali lipat pada tahun ini. Target
yang sangat optimis bagi perusahaan yang dinahkodai CEO Lei Jun.
Lei
mengatakan, perusahaannya lebih peduli menawarkan layanan dibandingkan
fokus pada keuntungan pembuatan peranti keras. Ia punya alasan.
"Masa depan mobile Internet adalah
tentang layanan," tegasnya. Fokus Xiaomi mirip dengan cara Google
menawarkan produk yang kompetitif. Usut punya usut, Lei juga pernah
menjadi karyawan di perusahaan berbasis di Menlo Park, California itu.
Layanan
andalan yang ditawarkan Xiaomi yakni versi sistem operasi yang sangat
disesuaikan dengan Android, MIUI. Sistem operasi ini lebih mirip iOS
dibanding Android.
Nah, jika masuknya Barra ke Xiaomi mampu
mendongkrak perusahaan China ini jadi masuk 500 perusahaan besar dunia,
tentu pembajakannya dari Android tidak sia-sia.
"Barra memiliki
naluri pemahaman yang tajam tentang produk, fitur apa yang akan bekerja
secara global," ujar Lei dalam sebuah wawancara.
Banyak
perusahaan teknologi China berupaya untuk menembus pasar dalam negeri.
Tercatat hanya Huawei saja yang cukup sukses ekspansi pasar luar negeri,
masuk di pasar Eropa maupun Amerika Utara.
Lantas bagaimana
peluang Xiaomi di pasar global? Semua baru dimulai. Dengan tambahan
kekuatan mantan eksekutif Android, sepak terjang Xiaomi sangat menarik
untuk ditunggu.
Sumber : viva.co.id ~ editor : admin